Prasastibahasa’s Blog

Berbagi Wawasan tentang Pernik-pernik Linguistik kepada Teman-teman Nonlinguis

Fasilitas SMS Melahirkan Gejala Bahasa Baru

Teknologi komunikasi dalam bentuk fasilitas layanan short message service (SMS) pada telepon genggam (HP) memengaruhi juga perkembangan bahasa. Hal itu ditandai dengan munculnya satu gejala bahasa baru berkaitan dengan penulisan pesan yang disampaikan melalui layanan tersebut. Gejala bahasa itu muncul karena bahasa (baca: penulisan pesan) menyesuaikan diri dengan media pengiriman pesan.

Sesuai dengan namanya, telepon genggam menyediakan fasilitas layanan pengiriman pesan dengan kapasitas sedikit yang diekspresikan melalui kalimat pendek. Sebaliknya, pengguna telepon genggam sering ingin menyampaikan pesan yang lebih banyak atau sebenarnya pesan yang akan disampaikan memang harus sebanyak itu. Pesan yang banyak tentu akan diekspresikan dengan kalimat panjang atau bahkan lebih dari satu kalimat.

Teknologi telepon genggam sekarang memang mampu menyediakan halaman untuk SMS dengan jumlah karakter (satu ruang untuk menuliskan huruf, tanda baca, atau spasi) yang lebih besar daripada teknologi telepon genggam jadul (jaman dulu). Meskipun demikian, pihak operator kartu telepon tetap membatasi jumlah karakter untuk setiap pengiriman satu SMS.

Keterbatasan kapasitas karakter dalam setiap pengiriman sebuah SMS itulah pada akhirnya memicu kreativitas para pemakai telepon genggam. Kreativitas ini muncul tentu disebabkan mereka tidak ingin terlalu boros dalam pemakaian pulsa telepon.

Bagaimana bentuk kreativitas dalam penulisan SMS? Bahasannya dapat dilihat di bawah ini.

1. Sistem Penulisan Onomatopis

Kreativitas pengguna telepon genggam dalam penulisan SMS melahirkan satu gejala bahasa unik. Gejala bahasa yang dimaksud berupa penggantian satu atau beberapa suku kata dengan satu huruf atau satu angka karena kesesuaian bunyi. Gejala bahasa ini dapat digolongkan ke dalam onomatope (onomatopoeia).

Definisi onomatope sebagaimana dikatakan Kridalaksana (1993:149) adalah penamaan benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan itu, seperti berkokok, mendengkur, suara dengung, aum, binatang tokek, cicak, dan sebagainya. Sementara itu, Sudaryanto (1985:279) mengatakan kata “peniru bunyi” atau tuturan onomatopoeia merupakan satuan lingual*) (baca: satuan bahasa) hasil pemfonikan**) dari satuan situasional***). Penamaan benda atau perbuatan seperti dicontohkan di atas merefleksikan bunyi atau suara yang dikeluarkan oleh binatang, alat, atau suara yang dihasilkan oleh perbuatan tertentu.

Dalam paparan di atas, kata-kata onomatopis terbentuk berdasarkan tiruan bunyi suatu benda atau bunyi yang dihasilkan perbuatan tertentu. Akan tetapi, kata-kata yang digolongkan onomatopis dalam penulisan SMS terbentuk berdasarkan kemiripan bunyi antara satu suku kata atau lebih dengan satu huruf atau angka. Berikut ini merupakan contoh-contoh kata dan kelompok kata onomatopis yang dimaksud.

a. Bahasa Indonesia

s4 : sempat

t4 : tempat

se7 : setuju

b. Bahasa Inggris

b4 : before ‘sebelum’

u : you ‘kamu’

c u : see you ‘sampai jumpa’

i c : I see ‘saya mengerti’

u 2 : you too ‘kamu juga’

me 2 : me too ‘aku juga’

may b : may be ‘mungkin’

c. Gabungan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

i2 : itu

d. Pemakaian Simbol

@ : at ‘di’

Contoh-contoh di atas merupakan data yang sejauh ini ditemukan. Tidak tertutup kemungkinan terdapat data-data lain.

Data-data di atas menunjukkan penulisan beberapa kata atau kelompok kata dalam bahasa SMS terdapat penggantian satu suku kata atau lebih dengan satu huruf, angka, atau simbol. Hal itu dapat terjadi karena bagian kata atau kata memiliki kemiripan bunyi dengan huruf atau angka tertentu. Bentuk empat yang merupakan bagian kata sempat, misalnya, memiliki kemiripan bunyi dengan angka 4 sehingga penulisannya dapat disingkat menjadi bentuk kata baru s4. Proses ini terjadi juga dalam penulisan kata tempat (t4) dan setuju (se7). Pada kelompok kata, penggantian seperti itu dapat terjadi pada salah satu kata (me too menjadi me 2) atau seluruh kata (see you menjadi c u). Selain dengan huruf dan angka, simbol, seperti @, juga digunakan untuk mengantikan kata depan at ‘di’.

Berdasarkan data dan paparan di atas, onomatope dalam bahasa SMS tidak bersifat terminologis (pembentukan kata dan istilah). Artinya, tidak ada kata-kata baru yang diciptakan dengan cara onomatope. Akan tetapi, lebih bersifat grafis. Sistem penulisan sebagaimana data-data yang dipaparkan bersifat silabis dan ideografis atau gabungan ortografi dan ideografi. Di pihak lain, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menerapkan sistem penulisan ortografis atau alfabetis.

Berkaitan dengan sistem penulisan ini, Richard dan Platt & Platt (1997:409) mengatakan sistem penulisan adalah sistem simbol-simbol tulis yang mewakili bunyi-bunyi (fonem), suku kata, atau kata-kata dalam sebuah bahasa. Terdapat tiga macam sistem penulisan, yakni alfabetis (ortografis), silabis, dan ideografis. Menurut mereka (1997:14), ortografi atau penulisan alfabetis adalah sistem penulisan yang terdiri dari huruf-huruf terpisah yang mewakili bunyi-bunyi. Satu huruf mewakili satu bunyi. Kata empat dalam bahasa Indonesia terdiri dari lima bunyi (fonem) yang ditulis dengan huruf (simbol) e, m, p, a, dan t. Sistem penulisan kedua, silabis, adalah sistem penulisan yang setiap simbul mewakili satu suku kata (1997:366). Dalam bahasa SMS hal ini berlaku pada penulisan kata depan at ‘di’ yang terdiri dari satu suku kata dengan simbol @. Terakhir, ideografi adalah sistem penulisan menggunakan simbol-simbol untuk mewakili seluruh kata atau konsep. Bahasa SMS menggunakan ideogram yang berupa satu huruf untuk mewakili seluruh kata karena kemiripan bunyi, seperti huruf c untuk mewakili kata see atau huruf u pada kata you. Dengan demikian, kelompok kata see you dapat ditulis dengan dua huruf c u yang masing-masing mewakili satu kata.

Penuilisan angka, seperti 4 dan 7, dapat digolongkan ke dalam ideografi. Dengan demikian, contoh s4, t4, dan se7 merupakan penggabungan ortografi dengan ideografi dalam bahasa SMS.

Selain itu, meskipun bukan merupakan gejala baru, kreativitas yang paling umum dilakukan adalah dengan menyingkat kata atau membuat akronim. Singkatan dan akronim yang paling sering digunakan adalah singkatan dari deretan kata dalam bahasa Inggris, seperti btw (by the way ‘omong-omong’), otw (on the way ‘di jalan’), asap (as soon as posible ‘sesegera mungkin’), atau GBU (god bless you ‘Tuhan memberkatimu’). Tentu juga digunakan singkatan-singkatan dalam bahasa Indonesia yang bermacam-macam bentuknya bergantung kepada kesepakan sebuah komunitas, misalnya menyingkat kata ganti orang pertama aku atau gua dengan q atau g(w). Banyak juga orang yang mengganti kata ganti orang pertama ini dengan bahasa Inggris, I, karena lebih singkat. Tidak jarang juga sebuah komunitas menggunakan huruf –x atau –n untuk kata ganti kepunyaan orang ketiga –nya.

Contoh-contoh di atas tentu merupakan sebagian kecil singkatan yang digunakan dalam bahasa SMS. Masing-masing komunitas biasanya disadari atau tidak disadari memiliki kesepakatan untuk menggunakan singkatan saling mengerti apa kata-kata yang diwakili oleh singkatan-singkatan atau akronim-akronim itu. Dengan demikian, bentuk singkatan dan akronim bervariasi. Setidaknya saya pernah menerima SMS dari berbagai pengirim yang di dalamnya terdapat singkatan k, q, g, gw, atau ku untuk mewakili kata ganti orang pertama aku.

2. Campur Kode

Campur kode atau code mixing (kode: dialek atau bahasa) memang bukan gejala baru dalam bahasa bagi masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Akan tetapi, bentuk-bentuk kreativitas, seperti yang sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya, juga melahirkan gejala yang disebut dengan campur kode ini.

Campur kode, menurut Bonvillain (2003:360-2), adalah sebuah proses linguistik yang menggabungkan materi (unsur-unsur) dari bahasa kedua ke dalam bahasa dasar. Campur kode dapat terjadi melalui proses peminjaman (borrowing). Peminjaman terjadi ketika sebuah item diambil mentah-mentah, sperti apa adanya, dari satu bahasa ke bahasa lain (Hudson, 1983:58). Dalam penulisan SMS, unsur-unsur (kata dan kelompok kata) dari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua digabungkan ke dalam kalimat bahasa Indonesia yang sebenarnya melalui proses peminjaman. Akan tetapi, penulisannya dimodivikasi dengan cara sebagaimana dipaparkan dalam bagian sebelumnya.

Hal itu terbukti dengan pemilihan bentuk b4 (before) untuk meggantikan sebelum meskipun kata itu bisa disingkat menjadi sbl atau sblm, misalnya. Bentuk seperti b4 sengaja dipilih dan digunakan bersama-sama dengan kata-kata bahasa Indonesia karena lebih pendek, terdiri dari dua karakter. Demikian pula halnya dengan singkatan btw, otw, asap, dan sebagainya atau pemilihan kata I.

3. Penutup

Bahasa akan berkembang seiring dengan perkembangan budaya masyarakat pemakainya atau pengaruh dari budaya masyarakat lain. Perkembangan teknologi telepon yang merupakan produk budaya masyarakat lain, misalnya, memberi pengaruh kepada perkembangan bahasa Indonesia. Karena fasilitas SMS memberikan ruang terbatas, memicu kreativitas para pengguna telepon genggam untuk menciptakan bentuk-bentuk singkat dalam penulisan pesan yang akan dikirim menggunakan fasilitas itu. Oleh karena itu, muncul satu varian baru dalam bahasa Indonesia, yaitu ragam bahasa Indonesia yang digunakan untuk penulisan pesan melalui fasilitas SMS telepon genggam atau disebut dengan ragam bahasa SMS. Ragam bahasa SMS ini mempunyai karakteristik yang ditandai dengan sistem penulisan onomatopis, pemakaian singkatan dan akronim, serta campur kode, penggunaan kata-kata serta ungkapan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Daftar Pustaka

Bonvillain, Nancy. 2003. Language, Culture, and Communication: The Meaning of Message (Fourth Edition). Upper Saddle River, New Jersey. Prentice Hall.

Hudson, R.A. 1983. Sociolinguistics. Cambridge. Cambridge University Press.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Richard, Jack C., Platt, John & Platt, Heidi. 1997. Longman Dictionary of Language & Applied Linguistics. Longman Malaysia. Longman.

Sudaryanto. 1985. Linguistik: Edai tentang Bahasa dan Pengantar ke Dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

*) Satuan lingual adalah segmen bahasa yang mendukung satu pola dalam berbagai tataran. Fonem mendukung pola kata, kata mendukung pola frase, kata dan frase mendukung pola klausa dan seterusnya.

**) Pemfonikan adalah proses pembentukan (kata) dengan bunyi bahasa.

***) Satuan situasional adalah satuan atau unsur di luar bahasa yang berhubungan dengan ujaran. Orang sedang tidur dengan suara mendengkur, misalnya, merupakan situasi yang berhubungan dengan satuan lingual yang berupa unsur bahasa (kata) dengkur.

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: